Generasi Sekuler VS Islam

Oleh: Asri Wulandari (Mahasiswi Teknik Pertambangan Universitas Bangka Belitung)

 

Masih menjadi perbincangan baru-baru ini seorang remaja yang membunuh bayinya karena alasan belum siap menikah dan punya anak. Kasus pembunuhan terhadap anaknya sendiri yang dilakukan oleh remaja berinisial SNI (18) di dalam toilet RSUD Beriman, pada Rabu 24 Juli sekira mendapat kritikan pedas dari masyarakat.

 

Dari keterangan pelaku, perempuan asal Tenggarong ini terpaksa melakukan hal demikian, karena belum siap untuk mengarungi rumah tangga dengan kekasihnya. (https://news.okezone.com/read/2019/07/28/340/2084688/remaja-ini-bunuh-bayinya-alasannya-belum-siap-nikah-punya-anak)

 

Masih dalam ruang lingkup yang sama, kasus pernikahan anak di kamp pengungsian gempa menambah deret kelam Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah dengan prevalensi pernikahan anak terbanyak, menurut tim redaksi KOMPAS.com tercatat setidaknya 12 kasus pernikahan anak di kamp pengungsian korban gempa dan tsunami yang tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala di Sulawesi Tengah dalam beberapa bulan terakhir.

 

Wartawan BBC News Indonesia Ayomi Amindoni dan Dwiki Muharam, mencari tahu lebih dalam di balik fenomena pernikahan penyintas korban bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada September 2018 silam.

 

Menurut salah satu anak penyintas bencana gempa dan tsunami Palu yang dinikahkan mengatakan bahwa dirinya enggan menikah cepat, tetapi karena faktor pergaulan yang tak mendapat pengawasan baik dari keluarga maupun aparatur pengungsian menyebabkan dirinya berani mendobrak norma. Di daerah sekitar pengungsian tercatat 12 kasus pernikahan anak yang terpantau oleh sebuah posko yang didirikan sebagai pusat rujukan bagi permasalahan anak dan perempuan di pengungsian.

 

Direktur LIBU Sulawesi Tengah, Dewi Ratna Amir mengungkapkan, kasus pernikahan anak paling banyak terjadi di Petobo, tempat fenomena likuifaksi terjadi. (https://amp.kompas.com/regional/read/2019/07/26/06370031/kisah-pernikahan-anak-di-kamp-pengungsian-palu-menikah-dengan-teman-hingga)

 

Kehidupan ala sekuler memang menawarkan racun berwujud madu yang membutakan para generasi untuk melihat dan menilai baik dan buruk suatu perbuatan, ditambah sistem demokrasi yang dianut oleh negara menjadikan negara gagal dalam memberdayakan generasi muda untuk berperilaku sesuai norma yang diusungnya.

 

Nyatanya segala upaya yang berdalih untuk membebaskan perempuan dari kekerasan dan pelecahan malah sebaliknya menjadikan mereka akhirnya terjerumus dalam pergaulan yang salah dan jauh dari fitrah manusia, serta membuat perempuan menjadi dilema dengan kehidupan yang mereka jalani.

 

Menurut Wakil Ketua KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Maria Advianti, kekerasan pada anak selalu meningkat tiap tahunnya tercatat sejak tahun 2011 hingga 2014. Sejumlah perempuan juga mengalami kemiskinan dari berbagai macam fenomena yang menujukkan eksploitasi pada perempuan, penzholiman, penganiayaan hingga trafficking.

 

Bukti gagal dalam mendidik karakter yang diusung oleh sistem hidup dengan asas sekulerisme memang sudah banyak dirasakan, meski sederet peraturan telah dibuat tetap saja kasus kenakalan remaja yang marak terjadi membuat sebuah paradigma baru yang semu dan kian tak diperhatikan lagi, seolah kenakalan remaja adalah hal yang wajar dan menjadi trend.

 

Pintu kemaksiatan justru dibuka selebar-lebarnya melemahkan generasi muslim, mematikan fungsi keluarga islami, serta berbuat sesuka hati tanpa dilandasi dengan syakhsiyyah Islam. Tak lain dan tak bukan semua terjadi karena lemahnya aturan negara dan akibat dari dipisahkannya aturan agama dalam mengatur hajat hidup manusia.

 

Dalam aturan Islam, negara berkewajiban untuk melindungi serta mengayomi urusan rakyat. Memberikan pendidikan yang berlandaskan syariat Islam, dan menjamin semua kebutuhan dasar manusia. Tak ada lagi ditemukan kasus – kasus pelecehan, penganiayaan bahkan eksploitasi terhadap kaum perempuan.

 

Perempuan mendapat perlindungan yang sangat baik sehingga dengan mudahnya mereka dapat senantiasa menjaga izzah dan iffahnya tanpa melawan kodrat.

 

Berhasilnya Negara Islam dalam memberikan pendidikan sudah dirasakan sejak abad lalu ketika peradaban Islam sedang berada pada kejayaannya, dimana Islam menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan dengan kesempurnaan aturan yang ada didalamnya.

Sebagai buktinya adalah apa yang dikatakan Will Durant seorang sejarawan barat dalam bukunya, Story of Civilization, dia mengatakan “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat setelah zaman mereka.”

 

Islam merupakan sistem paripurna yang mampu melindungi remaja dari kemaksiatan dan mendidik mereka dengan karakter syakhsiyyah Islam, mengaktifkan fungsi keluarga dengan menanamkan akidah dan membangun ketakwaan yang didukung oleh negara sendiri.

 

Generasi dalam Negara Islam merupakan generasi yang terdidik yang tidak hanya mengedapankan ilmu dunia namun juga memperhatikan adab dan akhlak.

 

(Asri/Red LPM UBB)

You must be logged in to post a comment Login