Alami Krisis Multidimensi, Indonesia dalam Cengkraman Kapitalis Liberal Oleh: Reska Amalia (Anggota Muslimah Study Club Babel)

 

Pernyataan Surya Paloh bahwa Indonesia pada saat ini menganut sistem kapitalis yang liberal menjadi perbincangan banyak kalangan akhir-akhir ini. Dalam kuliah umum di Kampus Universitas Indonesia beliau mengungkapkan bahwa ketika berkompetisi Above all, money is power sedangkan akhlak, kepribadian dan attitude bukanlah point penting dalam kompetisi. Dengan begitu siapa saja yang memiliki uang mampu memenangkan kompetisi.

Beliau juga mengatakan bahwa Indonesia pada saat ini malu-malu kucing untuk mendeklarasikan sebagai negara kapitalis yang liberal.

“Kita ini malu-malu kucing untuk mendeklarasikan Indonesia hari ini adalah negara kapitalis, yang liberal, itulah Indonesia hari ini,” ujarnya.

Ketua Umum Partai NasDem ini menyayangkan dengan sistem politik yang seperti ini sebenarnya bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila, meskipun begitu hal tersebut tidak mendapat perhatian dari para akademisi.

Namun yang menjadi pertanyaan apakah benar Indonesia menjadi negara Kapitalis Liberal?

Kapitalisme bukanlah ideologi baru yang tumbuh dan berkembang. Kapitalisme merupakan sebuah ideologi yang berlandaskan pada dasar sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan politik yang dicetuskan oleh Montesquieu dkk pada abad pertengahan. Gagasan ini lahir bukan tanpa sebab melainkan karena adanya dominasi gereja terhadap peradaban barat yang mana pada saat itu Paus dijadikan sumber kekuasaan agama dan kekuasaan dunia dengan otoritas mutlak tanpa batas, sehingga wajar sekali terjadi penyimpangan dan penindasan. Akibat dominasi ini, kemudian munculah pertentangan yang berlanjut pada perang untuk menuntut kebebasan (liberal) yang berlangsung hingga 30 tahun.

Perang tersebut berakhir dengan perjanjian bahwa gereja harus dipisahkan secara total dari masyarakat, negara dan politik.

Indonesia sendiri sejak lama mewariskan sistem permerintahan sekular kapitalis dari penjajahan Belanda dan saat ini sedang dipertahankan oleh Amerika Serikat. Jadi, meskipun pasca penjajahan Indonesia dinyatakan telah merdeka, tetapi kenyataannya Indonesia masih belum lepas dari cengkeraman neoliberalisme dan neoimperialisme. Indonesia hanya tidak dijajah secara fisik, akan tetapi politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan pertahanan masih dibawah kendali neoliberalisme dan neoimperialisme tadi. Tidak heran jika melalui penjajahan era baru ini Indonesia terus mengalami krisis multidimensi, karena keberpihakan dalam sistem kapitalis bukanlah pada kesejehteraan masyarakatnya melainkan pada sedikit kelompok saja yaitu “Para Kapital”.

Sebelumnya Surya Paloh telah menerangkan sistem kapitalis liberal pada bidang politik Indonesia, sebenarnya ide tersebut tidak hanya pada politik praktis saja tetapi pada semua bidang. Perekonomian Indonesia saat ini juga jelas berlandaskan pada sistem ekonomi kapitalis liberal, terbukti UU dibuat sedemikian rupa sehingga asing dan aseng bebas berinvestasi dan mengeksploitasi perekonomian Indonesia. Perusahaan-perusahaan asing diberikan ruang bebas untuk menggelarkan tikarnya di bumi Indonesia sehingga tidak sedikit perusahaan-perusahaan lokal yang pada akhirnya gulung tikar karena tidak mampu bersaing. Hal ini juga berakibat pada maraknya pengangguran yang justru menyengsarakan rakyat tetapi memberikan keuntungan besar bagi para pemilik modal tadi yang disebut dengan para kapitalis.

Belum lagi perekonomian yang berbasis riba telah menenggelamkan Indonesia dalam lautan hutang luar negeri, anehnya para petinggi negeri begitu menikmati penjajahan berbasis pinjaman ini. Belum saja lunas hutang yang lama, tetapi memulai hutang-hutang baru dengan kedok pembangunan infrastruktur. Sebenarnya melalui keterikatan hutang ini, Indonesia akan lebih mudah didekte oleh negara pemberi hutang, secara si penghutang harus tunduk pada si pemberi hutang, jadi tidak ada istilah makan siang gratis. Sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat termasuk Undang-Undang harus sesuai dan sejalan dengan aktivitas negara pemberi pinjaman tadi. Bahkan kekayaan sumber daya alam Indonesia yang berlimpah ruah yang seharusnya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat harus diambil alih dan dikelola asing.

Dari segi sosial budaya, kapitalisme yang sejalan dengan liberalisme memberikan kebebasan berekspresi yang sebebas-bebasnya dengan mengatas namakan Hak Asasi Manusia (HAM). Sehingga wajar LGBT yang merusak moral anak bangsa dibiarkan menampakan wajahnya ke depan publik, lokalisasi prostitusi, miras, pornografi, belum lagi dunia hiburan seperti film/movie yang sudah tidak berfilter lagi memberikan kebebasan bagi para produser untuk membuat tontonan yang tidak mendidik justru merusak moral. Namun asas kebebasan ini begitu kontras terhadap mereka yang meyuarakan Islam, yang mana ulama-uama hanif terus dipersekusi dan difitnah, Islam dimonsterisasi, kajian-kajian bernuansa Islam diawasi bahkan dibubarkan, mahasiswa sebagai penggerak perubahan sering kali dibungkam suaranya apabila mengkritisi kebijakan penguasa. Jelasnya liberal yang dimaksud adalah kebebasan bagi mereka yang sejalan dengan kebijakan kapitalis saja jika tidak maka harus segera dimusnahkan.

Apabila kita memperhatikan lebih dalam, maka Indonesia telah mengalami krisis multidimensi. Krisis di berbagai aspek kehidupan, negara tidak lagi mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan pokok dan urgent sekalipun, kemiskinan, kelaparan, kesehatan yang dikelola BPJS semakin mencekik rakyat, pencabutan subsidi BBM, kenaikan tarif listrik, korupsi, kesenjangan sosial, ketimpangan hukum, kerusakan moral, tindakan kriminal, kerusuhan dan banyak lagi. Maka sebenarnya sudah jelas, sistem Kapitalisme Liberal tidak cocok diterapkan di belahan bumi manapun.

Sekalipun Amerika Serikat tidak akan mampu memberikan kesejahteraan dan perlindungan secara menyeluruh kepada masyarakatnya melalui sistem ini. Kapitalisme hanya akan berujung pada kerusakan dan kemelaratan, tidakah kita lihat bahwa Indonesia telah rusak di banyak aspek kehidupan. Sejatinya kita belum merdeka dari neoliberalisme dan neoimperialisme dalam cengkeraman kapitalis liberal.

Lebih lanjut lagi, seharusnya kita tidak mengambil ideologi yang rusak ini untuk mengatur kehidupan kita, bahwa asas sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan atau pemisahan agama dari negara bukanlah solusi yang tuntas bagi permasalahan manusia baik di negara manapun. Sebab ideologi dengan aturan akal manusia bukanlah ideologi yang kuat, justru lemah dan penuh dengan kekurangan sehingga wajar menimbulkan banyak kesalahan. Di dunia ini terdapat 3 ideologi yang berdiri dan bersaing untuk mengungguli. Pertama adalah Ideologi Komunisme dengan asas materialisme, ideologi ini mengingkari adanya sang pencipta (ateis) sehingga segala urusan diserahkan kepada negara secara utuh, rakyat harus tunduk pada negara tanpa ada kebebasan sedikitpun, sekalipun kebijakannya tidak manusiawi. Namun ideologi ini telah lama runtuh karena tidak sesuai dengan fitrah manusia.

Kedua adalah Ideologi Kapitalisme dengan asas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Berbeda dengan komunisme, ideologi ini sejalan dengan liberalisme yaitu mengagung-agungkan kebebasan. Saat ini ideologi kapitalisme adalah ideologi yang dianut hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun ideologi ini terbukti tidak mampu mensejahterakan masyarakatnya, jelas kapitalisme hanya akan menguntungkan para pembesar (kapital) yaitu para pemilik modal dan para penguasa. Sama dengan ideologi komunisme, kapitalisme juga sedang menuju jurang kehancurannya.

Ketiga adalah Ideologi Islam, ideologi ini meyakini bahwa adanya Sang Pencipta (Al-Khaliq) sekaligus Sang Pengatur (Al-Mudabir). Melalui ideologi ini bahwa kehidupan tidak dapat dipisahkan dari agama, karena Allah sebagai pencipta dan pengatur segala urusan manusia. Ideologi ini pernah dicontohkan dan diterapkan oleh Rasulullah SAW dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya hingga berjaya selama lebih dari 13 Abad dan wilayahnya seluas 2/3 belahan dunia. Ketika Ideologi Islam diterapkan, maka yang tercipta adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan sistem pemerintahan ini baik muslim dan non muslim diberikan kesejahteraan dan perlindungan dalam seluruh aspek kehidupan. Maka inilah satu-satunya ideologi yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menenteramkan hati. Karena aturan yang digunakan berasal dari Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Sesuai dengan janji Allah, maka sistem pemerintahan seperti ini akan kembali tegak. Tugas kita sebagai seorang muslim yang mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah ikut turut berjuang untuk menegakkan kembali Ideologi Islam hingga cahaya Islam mampu menyinari seluruh dunia ini.

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya. Kemudian datang periode mulkan aadhdhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad)

(Reska/Red LPM UBB)

You must be logged in to post a comment Login