Masihkah Ada Guru Bangsa? Oleh : Achmad Fikri Haqiqi

Masihkah Ada Guru Bangsa? Oleh : Achmad Fikri Haqiqi

 

Mungkin kita pernah mendengar “Guru Bangsa”. Mungkin istilah ini awam bagi semua orang tapi pernah sedikit mendengar kata-kata ini dari teman, buku saudara dsb. bagi seseorang kalimat/perkataan “guru bangsa” ini merupakan sebuah istilah yang kurang istimewa dimata masyarakat Indonesia. Alih-alih dibahas malah hanya menjadi perbincangan biasa yang kurang begitu mempunyai pengaruh.

Seberapa pentingkah “Guru Bangsa” terhadap masyarakat Indonesia. Bila kita korelasikan dengan kondisi negara saat ini bahwasannya negara kita masih belum menemukan figur yang pas dijadikan panutan ideal dalam berpolitik. Mengakibatkan mereka terjerumus ke dalam politik transaksional, politik pecah belah, politik yg dikatakan dipenuhi dengan tanda hitam. Akibatnya anak negeri ini menirukan apa yang dilakukan oleh pendahulunya. Dari permasalahan tersebut muncul budaya buruk yang diturunkan paara leluhurnya yang menghasilkan politik-politik yang tidak berdasarkan atas kepentingan selurum masyarakat Indonesia.

Bagi penulis “guru bangsa” dia adalah orang yang berjasa mencerdaskan dan menggerakkan rakyat. bahhkan saya katakan dia bisa melebihi pahlawan dikarenakan dia dieluh-eluhkan di tiap zaman seperti Cokroaminoto. Mungkin dari pembaca masih ada yang belum mengenal dirinya. Ia adalah seorang yang menjadikan rakyat Indonesia sadar akan pentingnya berpolitik. bahkan saat dia memimpin sarekat islam anggotanya bisa mencakup sebagian wilayah Indonesia secara keseluruhan. Sebuah prestasi yang begitu membanggakan disaat teknologi masih terbatas pada waktu itu tapi dia bisa menggaet masyakat untuk sadar akan berpolitik. Dari Pak Cokro juga lahirlah negarawan, politikus hebat di masanya seperti kartosuwiryo, Sukarno, Musso dsb.

Disinilah peran guru bangsa bermain dalam mengemban tugasnya sebagai negarawan. dia mengajarkan dan menjadi tauladan bagi anak negeri untuk mengabdikan diri pada bangsanya. bahwasannya besok anak didiknya harus bisa berkontribusi serta bermanfaat dalam negara sepertinya. Ia tidak memberikan contoh lewat lisan saja tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata sehingga anak didiknya bisa menirukan dikemudian hari

Inilah yang kita harapkan di era sekarang seperti ini. Seakan-akan negara kehilangan figur seorang yang bisa menggerakkan atau mengajarkan nilai-nilai kebangsaan. Setelah hilangnya cokroaminoto seakan-akan tiada pengaantinya dan siapa yang akan melanjutkan perjuangan Indonesia setelahnya. Menurut penulis ini adalah sebuah keresahan yang sangat fundamental dalam negeri. bila ini terus terjadi dalam negara, yang ada mindset masyarakat bahwasannya politkus itu jahat dan keji. sehingga tiada yang namanya politikus berasaskan kepentingan seluruh rakyat Indonesia demi terciptanya keadilan dan kesejahteraan. Akhirnya yang merusak negeri ini bukan orang luar tapi orang dalam negeri karena tak bisa memberikan panutan yang baik pada generasinya rusak.

Rusaknya generasi politik ini bisa dikatakan pada etika, politikus dan nilai berpolitik itu sendiri. padahal bila dikatakan politik itu bisa menghidupi rakyat banyak bila dipegang orang yang benar. akan menjadi kebalikannya ketika yang berpolitik itu jahat. Dari rusaknya generasi politik merembet pada masalah-masalah sosial, pendidikan, lingkungan dll.

Walaupun dalam keadan yang tidak menguntungkan di akhir-akhir ini. sebenarnya guru bangsa selalu hadir dalam negeri ini dan terus lahir dengan wujud yang berbeda-beda dan keahlian yang berbeda-beda. lantas kita bertanya siapakah guru bangsa setelah dari mbah cokroaminoto meninggalkan kita pergi semua. Jawabannya begitu simpel yakni Sukarno. saya tidak perlu membahas panjang lebar dalam tulisan saya bagaimana peran Sukarno dalam negeri. Ia begitu disegani dan nilai-nilai ajarannya masih digaungkan sampai sekarang. bagi saya itu rasa sudah cukup. kemudian lahirlah Gus Dur seorang yang dianggap remeh oleh dunia tapi mampu menjadi presiden RI ke-4. dibalikk fisiknya yang serba kekurangan ia banyak mengajarkan nilai-nilai toleransi yang masih digaungkan oleh masyakat sekarang. bahkan dia membuka wawasan pengetahuan pada warga Indonesia walaupun dimusuhi oleh oknum-oknum yang berkepentingan serta orang yang salah memahaminya. Dari beliaulah kita sadar bahwasannya manusia baik tidak dilihat dari agamanya tapi siapa yang membawa kebaikan tersebut . Terakhir ada seseorang yang pantas menyandang gelar guru bangsa. Mungkin bagi beberapa orang membuat kecewa akan tetapi perannya sebagai warga negara sudah kelewat batas. Dari beberap kita pasti sudah mengenalnya yakni Mbah Nun yang tak ingin dilabeli apapun pada dirinya seperti sejarawan budyawan dll. Perannya bagaimana dia mendirikan jam’iyah maiyah sampai sekarang diacungi jempol. dalam jam’ah semuanya belajar tentang pribadinya, tasawuf, pendidikan, ekonomi dsb. maka saya rasa pantaslah ia disebut guru bangsa dikarenaka ia juga selalu mendapat curhatan dari banyak masyarakat Indonesia tentang keluh kesah bangsa.

lantas bagaimana indikator-indikator seorang dikatakan guru bangsa. ada beberapa kiteria yakni :

  1. Warga negara asli Indonesia
  2. Mempunyai semangat membangun kesadaran & mencerdaskan bangsa
  3. Nilai-nilai ajarannya universal dan masih digunakan pada zamannya sampai mendatang
  4. Gerakan-gerakan sosialnya bisa dirasakan oleh tiap etnis, suku, agama, budaya yang ada di negara Indonesia
  5. Diakui/dikenal oleh masyakat Indonesia secara keseluruhan (Miskin, Kaya, Intelektual, Pejabat dsb).

Dari kriteria tersebut saya yakin diantara kalian pasti mempunyai sosok yang pantas dijadikan guru bangsa ditengah-tengah krisis politik Indonesia yang sedang carut-marut dan penuh gejolak. saya yakin negeri kita akan menjadi bangsa yang disegani dan dikenal seluruh Indonesia walaupun sang sosok “Guru Bangsa” dari tiap golongan berbeda.

You must be logged in to post a comment Login