Menyuarakan Syariat Islam Sebagai Solusi Semua Persoalan

Menyuarakan Syariat Islam Sebagai Solusi Semua Persoalan

Oleh: Nurdiana (Anggota MSC Babel)

 

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno didaulat memberi sambutan dalam acara pelatihan OK OCE di Kantor Kecamatan Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Di awal pidato, dia memberi salam yang disebutnya dipopulerkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salam itu berupa gabungan ucapan salam agama-agama di Indonesia.

 

Hal ini sempat menjadi isu yang cukup viral belakangan. Banyak suara kontroversial yang didengungkan menyikapi persoalan ini. MUI Pusat bahkan menyatakan mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bidah, yang tidak pernah ada di masa lalu. Minimal mengandung nilai syubhat, yang patut dihindari. (https://news.detik.com/berita/d-4778970/mui-pusat-dukung-imbauan-pejabat-tak-gunakan-salam-pembuka-semua-agama)

 

Tentu, ini menjadi sesuatu yang cukup miris ketika muslim hari ini cenderung melakukan hal-hal yang seringkali menggabungkan Islam dengan ajaran asing. Ini tak berlepas dari adanya upaya penjajah yang tak henti-hentinya melakukan berbagai propaganda untuk menyerang Islam. Tujuannya adalah agar kaum muslim tanpa sadar mengikuti arus yang sedang mereka rancang. Salah satunya adalah wacana toleransi dan radikalisme sebagai alat untuk menstigmatisasi dan reduksi nilai Islam.

 

Narasi toleransi yang dibangun oleh penjajah yakni Barat berdasarkan asas demokrasi dan HAM telah berhasil membawa kaum muslim pada pemahaman yang salah kaprah. Kaum muslim akan dikatakan sebagai orang toleran jika mau melakukan apa yang diwacanakan Barat. Sebaliknya, jika tak sejalan dengan mereka, lantas dikatakan sebaliknya: intoleran atau radikal.

 

Oleh Barat, jika ada seorang muslim berpegang teguh pada kemurnian ajaran Islam dalam memandang dan bersikap terhadap keyakinan agama lain, mereka akan dicap sebagai fundamentalis, radikalis dan intoleran. Sebaliknya, jika seorang muslim mengikuti timbangan Barat dalam menyikapi perbedaan agama dengan cara mengakui kebenaran agama lain, mereka akan disebut sebagai muslim moderat dan toleran.

 

Barat berupaya menstigmatisasi Islam sebagai ajaran radikal. Pasalnya, Islam tidak mengakui kebenaran agama lain, dan Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

 

Menjaga kemurnian agama dan kebebasan melaksanakan ibadah secara kafah dalam kehidupan sekuler hari ini, sangat tidak mudah. Benturan akan senantiasa akan terjadi. Kepentingan dan kenyamanan publik sering menjadi senjata untuk menghalangi ‘kebebasan’ beribadah, atau menggenakan ‘simbol’ syariat.

Bagaimanapun juga, kebebasan beragama ala kapitalis sekuler pasti tak lepas pada kepentingan-kepentingan pragmatis.

 

Jika kebebasan ala kapitalisme sekuler seperti ini yang terus dihadirkan di tengah umat, maka tak heran gesekan antarumat beragama akan semakin keras. Ukuran penodaan agama yang tidak jelas standarnya akan menimbulkan keraguan, baik ukuran penodaan itu sendiri maupun pihak yang mempunyai otoritas dalam menetapkan sebuah kasus termasuk penodaan atau bukan. Yang dikhawatirkan adalah kebebasan agama ala kapitalis sekuler, justru membebaskan manusia bertindak.

 

Islam telah memiliki konsep toleransi yang adil dan proporsional yang akan menjadikan kaum Muslim dan non-Muslim justru bisa hidup rukun secara sempurna dan penuh keamanan serta kesejahteraan. Hal ini hanya bisa diwujudkan dengan penerapan syari’ah kaaffah dalam Daulah Islamiyah. Ini pula yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. di Madinah.

Sehingga inilah pentingnya menggunakan syariat Islam dalam semua persoalan kehidupan. []

 

(Red LPM-UBB)

You must be logged in to post a comment Login