Menggelitik! Pelihara Ayam Atasi Stunting??

Menggelitik! Pelihara Ayam Atasi Stunting??

Oleh : Ihtisyamul Fatimah (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung)

 

Beberapa tahun belakangan, Indonesia sedang mengalami darurat stunting atau kondisi gagal tumbuh yang masih belum terselesaikan. Masalah kekurangan gizi dalam tumbuh kembang tentu sangat mengkhawatirkan. Pada dasarnya, stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama terutama pada 1000 hari pertama kelahiran.

World Health Organization (WHO) menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk. Pada tahun 2019, angka prevalensi balita stunting mencapai angka 27,67%. Berdasarkan standar yang ditetapkan WHO Indonesia mengalami stunting tinggi di atas angka 20% merupakan jumlah yang sangat besar dalam sekian puluh juta penduduk Indonesia khususnya anak-anak yang tidak mendapat asupan nutrisi. Akibat dari tingginya angka stunting, masyarakat mendesak agar pemerintah serius dalam menurunkan angka stunting. Sehingga pemerintah mewacanakan gerakan piara satu ayam tiap rumah untuk atasi masalah stunting.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengusulkan agar satu keluarga memelihara ayam untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ia mengatakan pemenuhan gizi anak bisa dilakukan dengan memberi asupan telur dari ayam yang dipelihara tersebut. Menurutnya gizi yang diberikan sejak usia dini dapat menekan angka stunting alias gagal tumbuh akibat kurang gizi kronis pada seribu hari pertama.(CNN Indonesia)

Seakan-akan itu adalah solusi yang tepat, sehingga Menteri Syahrul Yasin Limpo mendukung usulan Kepala staf Kepresidenan Moeldoko agar setiap keluarga memelihara satu ekeor ayam untuk mencegah stunting. “ Saya kira ini kan pikiran yang bagus. Kalau kita harus punya ayam kurang satu orang satu ekor kan berarti ada 267 juta ayam. Terpenuhi itu.” Ujar Syahrul di Kantor PT Charoen Pokhpan Indonesia, Jakarta, Minggu (4/11). (CNN Indonesia)

Solusi yang dikatakan Moeldoko memiliki kesan asal jawab, sangat mengherankan dan cukup menggelitik. Pelihara ayam diperkarangan rumah yang memiliki halaman sempit, justru akan mengakibatkan masalah baru misalnya, bisa menimbulkan penyakit dan rumah menjadi kotor. Memelihara ayam bukanlah perkara yang mudah, butuh biaya yang besar untuk menghasilkan telur yang berkualitas. Jangankan untuk membiayai ayam untuk makan saja sulit. Di era saat ini sangat sulit bagi rakyat untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditambah harga kebutuhan pokok semakin melonjak, dampaknya masyarakat akan semakin sulit mendapatkan bahan makanan yang memenuhi standar gizi keluarga.

Ingin menghadirkan sebuah solusi malah menjadikan masalah dengan masalah. Maka wacana gerakan piara satu ayam tiap rumah bukanlah solusi komprehesif dalam mengatasi masalah stunting, sebab masalah stunting diperlukan solusi yang mendasar dan sistematik.

Stunting juga berpengaruh terhadap pertumbuhan otak balita membuatnya tidak ada daya saing saat dewasa. Apalagi balita perempuan yang mengalami stunting ketika dewasa menjadi ibu yang berpotensi melahirkan bayi dengan gizi buruk pula. Stunting juga diakibatkan oleh kehamilan dari ibu yang tidak mendapatkan asupan nutrisi, kemudian masa pertembuhan awal anak juga tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang memadai sehingga mengalami hambatan pertumbuhan.

Stunting menunjukan tidak terpenuhinya kebutuhan pangan. Padahal negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan dan papan. Bahkan kebutuhan yang paling mendesak yakni pangan pun tidak bisa diberikan secara memadai. Ini persoalan yang lahir sebagai akibat tidak adanya jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar atas individu-individu rakyat. Seharusnya satu nyawa yang terlahir di negeri ini kemudian tidak terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya yaitu kebutuhan nutrisi pada diri individu adalah persoalan besar yang tanggung jawabnya luar biasa berat bagi seorang pemimpin yang tidak berbuat secara optimal untuk melayani rakyat.

Ini menunjukan tidak adanya keseriusan Pemerintah dalam mengatasi stunting. Seolah-olah Pemerintah lepas tanggung jawab dengan hanya mengandalkan Gerakan Nasional ini. Padahal pemenuhan kebutuhan kemaslahatan rakyat adalah tanggung jawab Negara. Dalam Islam negara wajib bertanggungjawab secara penuh dalam pengurusan hajat publik. Adapun Rasulullah saw bersabda “sesungguhnya seorang penguasa adalah pengurus (urusan rakyatnya) yang bertangungjawab terhadap rakyat yang diurusnya”

Seharusnya Negara tidak terpaku pada Gerakan Nasional yang hanya bertumpu pada anggota masyarakat yang menjalaninya. Tetapi negara harus terlibat dalam membuat kebijakan menyeluruh untuk menghapus kemiskinan.

Padahal Negeri ini memiliki tanah subur yang terhampar luas di penjuru tanah air dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah. Dari kekayaan alam yang dimiliki negeri ini haruslah diolah dengan benar, karena itu salah satu sumber pendapatan yang akan digunakan untuk mewujudkan kesejaheraan rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, padang, rumput, air dan api.” (HR Sunan Abu Daud, no 3745) negara akan mengelola sumber daya alam yang ada untuk menyejahterakan rakyat. Dan bukan dijual atau dikuasakan kepada asing.

Sehingga kedaulatan pangan pada suatu negara dapat diartikan kemampuannya memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya secara mandiri dan negara juga mampu secara mendiri menentukan kebijakan pangannya tanpa diinterversi oleh pihak lain. Maka akan terlaksanakannya layanan masyarakat secara gratis dan berkualitas.

 

(Red LPM-UBB)

You must be logged in to post a comment Login