Urgensi Kerukunan Bahari : Masyarakat Pesisir dan Kepentingan Pertambangan

Urgensi Kerukunan Bahari : Masyarakat Pesisir dan Kepentingan Pertambangan

LPM UBB – Balunijuk, Anggota alumni HMI Kabupaten Bangka angkat bicara terkait rencana eksploitasi mineral timah di perairan laut sinar jaya Jelutung dan Matras.

Fega Erora selaku anggota bidang perikanan, kelautan dan maritim Majelis Daerah KAHMI Kab Bangka menyampaikan kepada masyarakat pesisir dan nelayan agar dapat bersikap arif terhadap kepentingan Sumber daya bahari.

Dalam hal ini, apabila masyarakat pesisir dan nelayan bisa hidup rukun dengan parawisata yang mengeksploitasi keindahan alam bahari, baik dari sisi eksotisme maupun budaya sebagai ruang ekonomi bagi sebagian masyarakat pantai.

Maka demikian halnya, perlakuan yang sama mesti diberikan seluas-luasnya kepada pelaku usaha pertambangan agar tercipta kehidupan yang rukun antara masyarakat pesisir dan nelayan dengan pertambangan.

Pertambangan timah di Bangka bukanlah barang baru yang mestinya tak lagi diributkan, selama terpenuhinya aspek legal. Jauh sebelum bermunculannya sentra-sentra pariwisata di Bangka bahwa pertimahan adalah pilar penyangga ekonomi sebagian rakyat di kabupaten Bangka.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemanfaatan SDA mineral timah yang tak dapat diperbarukan memungkinkan PT. TIMAH Tbk dan mitranya mengelola ruang bahari untuk keberlanjutan ekonomi dan sebagai wujud dari penguasaan negara atas objek vital yang dikelola untuk kemakmuran rakyat.

Eksploitasi sumber daya mineral timah di perairan laut bangka merupakan bentuk akhir daripada berbagai tahapan dan kajian yang juga diatur oleh produk perundangan.

Senada halnya dengan pariwisata. Sehingga, kepentingan keduanya bukan untuk menjadikan masyarakat pesisir dan nelayan sebagai wasit atau penentu layak atau tidaknya suatu ruang wilayah bahari di peruntukkan sebagai pariwisata atau pertambangan. Apalagi masyarakat pesisir dan nelayan profesi seolah di support oleh penonton untuk menguatkan dalih menerima atau menolak/mengutuk.

Demikianlah, diperlukan partisipasi dari segenap pihak yang berkepentingan terhadap potensi sumber daya bahari di wilayah tersebut. Dalam hal ini para nelayan, masyarakat pesisir pantai, pelaku wisata dan pertambangan untuk bergandeng tangan dengan satu tujuan, yakni tercapainya kesamaan hak di muka hukum demi tercipta kerukunan, ketertiban dan keamanan yang berkeadilan serta tercapainya kesejahteraan bagi masyarakat disekitar SDA bahari yang kita miliki.

“Bukan kalah jadi abu menang jadi arang”

(Fega Erora/ Red Lpm UBB)

You must be logged in to post a comment Login