Jika Kapitalisme Mengurusi Pangan, Sejahtera atau Sengsara?

Jika Kapitalisme Mengurusi Pangan, Sejahtera atau Sengsara?

Oleh: Meliani (Mahasiswa Universitas Bangka Belitung)

 

Rasanya masih tidak basi untuk dibahas mengenai beras bulog yang akan dibuang sebanyak 20ribu ton. Fantastis, itu kalau dirupiahkan jadi berapa kira-kira ya? Dilansir dari CNN Indonesia (29/11) lalu Perum Bulog menyatakan akan membuang 20 ribu ton cadangan beras pemerintah yang ada di gudang mereka. Nilai beras tersebut mencapai Rp 160 miliar. Ternyata 160 M saudara. Luar biasa mubazirnya, sementara masih jelas di mata kita, banyak orang-orang yang masih mengais-ngais makanan sisa, makan dirapel, hingga makan nasi aking. Masih dalam sumber yang sama dikatakan bahwa saat ini cadangan beras di gudang Bulog mencapai 2,3 juta ton. Sekitar 100 ribu ton di antaranya sudah disimpan di atas empat bulan. Sementara itu 20 ribu lainnya usia penyimpanannya sudah melebihi 1 tahun. Mulai timbul pertanyaan kembali. Masyarakat yang miskin banyak, kok simpanan berasnya masih banyak? Lho, ini gimana mereka mengedarkannya?

Bentar lagi masuk tahun 2020, tinggal menghitung hari saja tahu 2019 ini akan segera berganti, meninggalkan kisah-kisah kelam negeri ini. Tapi, apakah di lembaran kalender baru kita akan mendapatkan secercah cahaya? Dilansir dari CNN Indonesia lagi, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengusulkan kenaikan Harga Pembelian Beras (HPB) dari Rp 9.583 per Kilogram (Kg) menjadi Rp 10.742 per Kg pada 2020. Usulan kenaikan harga dilakukan, mengingat harga lama jauh di bawah harga pasaran. Belum juga masuk tahun 2020 kita sudah dihadapkan dengan berita suram. Kenapa kok mau dinaikkan? Buwas mengatakan bahwa Bulog mengalami kesulitan pendanaan dalam menyerap gabah dan beras dari petani. Pasalnya, Bulog mengandalkan kredit perbankan dalam melaksanakan kewajiban tersebut. Akan tetapi, pembayaran dari pemerintah baru dapat dilakukan setelah terjadi realisasi penjualan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), sehingga pencairan dana tidak selalu di awal tahun. Proses pencairan dana itu turut mempengaruhi kinerja keuangan Bulog. Lihat saja, sepanjang Januari-Oktober Bulog mengantongi laba Rp 407,65 miliar. Laba itu turun 70,46 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,38 triliun. Ohhh ternyata begitu… masih untung rugian dalam mengurus umat.

Alih-alih ingin mengurangi impor beras ternyata banyak miskomunikasi antara instansi-intansi yang terkait dengan masalah pangan ini. Dikutip dari Muslimahnews.com “Dari hasil pemeriksaan BPK, setidaknya ada 11 kesalahan impor pangan sejak 2015 hingga semester I 2017. Dalam hal impor beras, penerbitan Persetujuan Impor (PI) beras sebanyak 70.195 ton dengan realisasi sebanyak 36.347 ton ternyata tidak memenuhi dokumen persyaratan, melampaui batas berlaku, dan bernomor ganda. PI ini secara jelas menunjukkan bahwa Kementerian Perdagangan lalai dalam memberikan PI.”

Realita yang sangat miris, sangat Nampak betapa kurangnya koordinasi atar instansi dan birokrasi dalam menangani masalah pangan ini. Cara kerja yang kentara dengan tambal sulamnya, rumitnya birokrasi, memperlihatkan secara jelas betapa kepentingan rakyat tidak lagi menjadi tujuan dari profesinya.

Sebagai agamanya sekaligus ideologi yang sempurna, Islam tentunya memiliki solusi dari semua permasalahan manusia, termasuk masalah pangan ini. Islam memandang bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar/pokok setiap manusia, pemenuhannya adalah harus dan menjadi bagian penting dari tanggungjawab negara. Akan dimintai pertanggungjawaban apabila seorang pemimpin membiarkan warga negaranya kelaparan.

Islam pun memiliki manajemen supply chain pangan yang apik. Bisa dipelajari bagaimana Rasulullah mengangkat Hudzaifah ib al-Yaman sebagai katib yang ditugaskan untuk mencatat hasil produksi Khaybar dan hasil produksi pertanian, kebijakan harga ditetapkan melalui mekanisme pasar dengan melihat supply dan demand bukan dengan kebijakan pematokan harga. Umar bin Khattab pernah mempraktekkan pengendalian suplai pada masa paceklik, Hijaz mengalami kekeringan. Beliau menuliskan surat kepada Amru bin Al-‘Ash sebagai walinya di Mesir mengenai kondisi pangan di Madinah dan memerintahkannya untuk mengirimkan pasokan. ‘Amru membalas “saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makana, yang ‘kepalanya’ ada di hadapan Anda (Madinah) dan ekornya masih di hadapan saya (Mesir) dan aku sedang mencari jalan untuk mengagkutnya lewat laut”.

Begitu apiknya konsep Islam memberikan solusi atas berbagai problem, termasuk problem pangan ini. Sudah semestinya sistem kapitalis sekuler ini ditinggalkan, karena segala urusan rakyat hanya menjadi ajang mencari keuntungan, semantara kemaslahatan masyarakat dinomorsekiakan. Sistem yang meniscayakan pola kerja ala rimba dan amat rumit dalam pelaksanaannya. #backtoIslamkaffah

 

Source :

Enggar VS Buwas, Salah Kelola Impor Beras

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191121140033-92-450319/buwas-usul-kenaikan-harga-beras-rp10742-per-kg

https://www.kiblat.net/2015/02/06/islam-solusi-ketahanan-pangan/

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20191121140033-92-450319/buwas-usul-kenaikan-harga-beras-rp10742-per-kg

 

(Red LPM UBB)

You must be logged in to post a comment Login