“Cemberutan Kota Pangkalpinang”

“Cemberutan Kota Pangkalpinang”

Oleh : Ramsyah Al Akhab

“Pangkalpinang Kota Beribu Senyuman” Siapa yang tidak tahu dengan slogan tersebut. Slogan banggaan warga kota Pangkalpinang. Semenjak dipimpin oleh Maulan Akil atau yang akrab disapa Molen, walikota Pangkalpinang sekarang, pamor kota Pangkalpinang semakin meningkat. Beberapa fasilitas umum sudah tampak terbangun.

Merangkum tahun 2019 lalu, tampak sangat banyak kegiatan dan hiburan masyarakat yang berbau kultur budaya Bangka Belitung. Bahkan diantaranya diperuntukkan memecahkan rekor muri seperti Tari Sambut, Sajian Otak-otak dan swafoto senyuman masyarakat Pangkalpinang.

Bila pembaca adalah masyarakat Pangkalpinang atau sering berjalan di kota Pangkalpinang maka akan tampak beberapa fasilitas umum yang telah terbangun. Mulai dari penerangan di Taman Whillmina Park (Taman Sari), bangku sepanjang trotoar jalan Ahmad Yani, beberapa tugu, dan bola-bola beton pada bahu jalan kota Pangkalpinang. Tampaklah bahwa kota Pangkalpinang semakin hidup. Ditambah banyaknya pemuda yang sering bersantai di bahu jalan dengan kebiasaan angkringan dan ngopi. Bahkan pada saat ini sudahlah mulai menjamur Indomaret, Alfamart hingga Transmart sudah hadir di Pangkalpinang. Memang kebijakan untuk pasar di atas bukan pada pemerintahan walikota tetapi tetap menjadi pengawasan dalam lingkup mata pemerintahan walikota.

Pembaca yang budiman, janganlah terbuai lebih dulu. Penulis ingin mengajak pembaca Menilik lebih jauh permasalahan di balik pembangunan ini. Membangun fasilitas dan mengadakan event sudah pasti menjadi hal yang wajar. Tetapi apakah sudah menjadi urgensi untuk kota Pangkalpinang? Apakah ini yang diprioritaskan?

Bukan maksud mengalihkan perhatian tetapi sudah sepatutnya hal ini dibahas lebih dulu. Selama musin hujan, selalu Pangkalpinang terendam banjir. Bahkan hanya diguyur hujan satu jam lamanya, beberapa ruas jalan di Pangkalpinang sudah terendam air. Ini selalu menjadi PR untuk kota Pangkalpinang. Bukan menandakan bahwa tidak ada usaha dari pemerintah kota tetapi sangat minim usaha yang tampak dilakukan. Sudah seharusnya ini menjadi masalah prioritas yang mesti terselesaikan. Bila dibandingkan dengan fasilitas umum maka sangat tampak ketimpangan terlihat.

Pertanyaan besar yang harus diajukan adalah “atas pertimbangan apa pemerintah tampak lebih sibuk dengan fasilitas dan hiburan umum daripada permasalahan yang sudah menjadi PR Pangkalpinang?” bila pembaca melihat beberapa ruas jalan Pangkalpinang, akan tampak beberapa fasilitas yang sangat tidak urgen. Pernahkah pembaca berpikir untuk apa dan fungsinya bola-bola beton yang begitu banyak terdapat di ruas jalan Pangkalpinang? Berapa banyak anggaran yang sudah dihabiskan untuk membangun bola-bola tersebut? Bukankah sepatutnya anggaran tersebut di alokasikan untuk penyelesaian masalah banjir. Bahkan logo senyuman kota Pangkalpinang hanya menjadi penghias tiang lampu jalan sepanjang jalan Jenderal Sudirman yang sudah pasti memakan banyak anggaran biaya.

Pasar modern seperti Alfamart, Indomaret, dan Transmart adalah kemajuan di sebuah kota tetapi juga menjadi masalah untuk pengusaha kecil seperti toko kelontong. Penulis bukan ingin membahas hal tersebut karena nasi sudah menjadi bubur tetapi penulis ingin ingin mengajak pembaca melihat permasalahan yang hadir karena adanya Transmart. Parkir liar menjamur di sekitar Transmart. Bahkan ini terjadi di jalan protokol yang mengganggu pengguna jalan lain dan menyebabkan kemacetan.

Sudah sepatutnya pemerintah kota terutama dinas perhubungan untuk menertibkan hal tersebut. Saat bisa membangun Transmart yang begitu besar kenapa parkir yang di sediakan sangat minim. Perkara ini yang menjadi awal mula terjadinya parkir liar. Sudah sepatutnya pihak transmart menyediakan fasilitas parkir yang juga seimbang. Bila bisa membangun transmart yang besar, kenapa pula tidak bisa membangun lahan parkir yang besar pula?

Sekarang kita telah menempuh langkah awal tahun 2020. Di tahun yang sudah baru, sudah patutnya permasalahan lama terselesaikan. Mari tetap menjaga senyuman kota Pangkalpinang, jangan sampai berubah menjadi cemberut.

(Ramsyah Al Akhab/Red LPM-UBB)

You must be logged in to post a comment Login